Sinetron.
Sebuah kata yang saya rasa semua lapisan masyarakat Indonesia, dari anak-anak sampai nenek-nenek, dari kaum pemulung sampai konglomerat, dari orang kampung sampai orang kota, semua tahu tentang kata itu. Kosa kata wajib bagi para “ TV Fans Club” …biasanya nih, membernya ya para ibu-ibu RT (bukan rukun tetangga lho…hehe..) plus pembantu2 kesepian dan sdh kehabisan kerjaan (atau yg males2an….).
Sinetron memang mulai mewabah, semakin deras menyerbu industri televisi Indonesia sejak tiadanya lagi kisah-kisah telenovela yang mengharu biru. Masih ingat kan telenovela2 seperti Maria Mercedez & Marimar, trus apalagi ya….hehehe…lupa juga namanya, tapi umumnya judul telenovela 2 itu biasanya nama cewek…..Akhir tahun 90-an sampai awal thn 2000, siapa yg ga kenal .Talitha, aktris pemeran Marimar dan Maria Mercedez? Tanya ke mama/nyokap/mpok/tante atau siapalah…pasti mereka akan langsung merespon dengan semangat…..hehehe…Sampe nih, telenovela yang sama didaur ulang alias pindah stasiun TV, tetap aja banyak yang nonton….sampe segitunya ya….
Nah, kalo soal sinetron mungkin ceritanya akan sedikit berbeda…Sinetron Indonesia sebenarnya sudah mulai “unjuk gigi” saat TV swasta Indonesia bermunculan. Sebut saja salah satu sinetron yg legendaris, seperti Tersandung…eh…Tersanjung…yang dibikin sekuelnya ampe 6 kalo ga salah, ampe aktor dan aktrisnya ganti2 untuk peran yang sama, ampe ceritanya dibikin jadi kagak mutu, dicari2, pemeran lama dibikin ilang, trus ketemu sudah operasi plastik atau apa lah, alasan yang lucu2 pokoknya, yang penting cerita jalan terus dan produser semakin banyak menangguk untung.
Sampe beberapa tahun ini, emang sinetron semakin menancapkan kukunya dalam industri hiburan elektronik visual (waduh…rumit amat mau bilang TV aja…hehehe…). Dan ga tahu kenapa ya, Indonesia sepertinya ga pernah kehabisan stok aktor dan aktris baru yang cakep2, potensial dan berbakat, datang dan pergi silih berganti karena kompetisi diantara mereka juga semakin ketat. Jadi heran juga nih saya, bapak ibunya dulu cara bikinnya gimana ya, kok anak2nya bisa cuakeepp2 kayak gitu…hehehe…kok malah ngelantur nih…
Lanjut….
Gak bisa dipungkiri, sinetron memang banyak membikin para pelakunya menjadi kaya. Maksud saya bener2 kaya dari sisi materi, walaupun kalo dari sisi seni secara kualitatif, masih jauh lah dari sebuah produksi film. Faktor yang utama karena sistem kejar tayang yang membuat sinetron ini seperti “kejar-kejaran” antara ide, proses kreatif dan target tayang. Belum lagi sifat yang conditional untuk setiap saat harus siap “berubah”, misal dalam cerita atau tokoh, karena terkadang aktor/aktrisnya mungkin mengalami masalah saat sinetron kejar tayang tersebut berlangsung sehingga ga bisa main dalam scene yang sudah dijadwalkan (mis: meninggal, sakit keras atau maaf….tersangkut narkoba dan ketahuan….).
Tapi, daya tarik sinetron tetap lah tinggi bagi para pendatang baru di dunia seni peran (apalagi yg pengen duit banyak). hanya segelintir pelaku seni yang punya preferensi untuk sedikit maen di sinetron (bukan berarti tidak pernah) karena ingin berkonsentrasi di film. Sebut saja (maaf kalo ada yg salah, ini opini pribadi) : Dian Sastrowardoyo, Slamet Rahardjo, Tora Sudiro, Jajang C Noer, Christine Hakim, Alex Komang, dll.
Dan fenomena baru yang muncul adalah berkembangnya konsep sinetron berupa FTV (Film Televisi), yang ceritanya selesai sekali tayang dengan durasi yang kurang lebih sama dengan film layar lebar. Ini adalah sebuah respon dari para produser sinetron yang mulai tanggap bahwa masyarakat sudah jenuh dengan adanya sinetron-sinetron kejar tayang yang puanjanngg banget ceritanya, kadang setaon lebih baru kelar, jadi ibarat kata bisa jadi kalo ada ibu-ibu mulai hamil, sampai dia melahirkan dan sampai anaknya sudah belajar duduk, baru sinetron selesai alias tamat…weeewww….lama banget yaak…hehehe…
Dan jujur saja, saya salah satu penggemar sinetron dengan konsep FTV seperti ini, karena tidak menyita banyak waktu untuk menontonnya, plus ga ada keterikatan untuk mengikuti sinetron itu terus menerus, Sekali nonton, selesai. Enak kan? Gitu aja kok repot….hehehe….jadi malu nih ketauan suka nonton sinetron juga…wakakaka…..
Dan kalau masalah tema, sepertinya setiap stasiun TV sudah “mematok” tema apa yang mereka usung dalam sinetron yang ada dalam siaran mereka. Coba deh kita cermati, stasiun TV tertentu, biasanya punya ciri khas sendiri dalam penayangannya, ada yg suka tema-tema horor, trus tema yang ke”india-indiaan” gitu, tema-tema masyarakat kelas bawah, dsb. Cuma yang sangat disayangkan, sangat sedikit yang mengangkat realita yang ada di masyarakat dalam sinetron, yang jadinya membawa penonton dalam pusaran mimpi dan khayalan dan gaya hidup yang ditonjolkan dalam sinetron tersebut (yang biasanya dilebih-lebihkan) seolah menjadi trend setter bagi para pemirsa, apalagi bagi remaja2 yang masih dalam tahap kebingungan identitas. Memang sebuah dilematis, tapi saya rasa para produser sinetron perlu juga memperhatikan hal-hal seperti ini jika ingin generasi muda Indonesia lebih berkualitas yang tidak terperangkap dalam gaya hidup hedonis yang saat ini mulai merasuki para generasi muda kita dimana peran sinetron-sinetron ini adalah salah satu pemicunya.
Dan, rasanya kita juga setuju, justru sinetron-sinetron yang mengangkat realita dalam masyarakat justru yang malah laris dilihat. Sebagai contoh sinetron karya aktor senior Deddy Mizwar, Para Pencari Tuhan atau sinetron komedi situasi Bajaj Bajuri. Ketika sinetron itu banyak mengandung “pesan” dan itu bisa dirasakan oleh pemirsanya, itulah sebuah sinetron yang sukses, setidaknya sukses secara immateriil, tapi yakin deh sukses materi juga akan mengikuti kesuksesan secara immateriil itu…..
So, begitulah…apapun kondisi sinetron indonesia, kita seharusnya tetap mendukungnya, karena ini adalah sebuah proses dari sebuah seleksi alam untuk sebuah pencapaian terbaik. Semoga ke depannya produksi sinetron jauh lebih berkualitas dan berbobot agar karya anak negeri semakin bisa dihargai di negeri sendiri.
Filed under: sinetron indonesia